Gayo Catura

Origin: Gayo, Sumatra
100% arabica coffee
Elevation: 1450m ASL
Variety: Caturra
Tasting notes: hints of pinapple, bing cherry, lychee, raspberry, dried plum, berries caramel, blood orange
Process: Semi wash, wet hulled

Kopi Gayo adalah hasil kopi yang didapat dari pohon yang tumbuh di daerah dataran tinggi Gayo Sumatra, Indonesia.
Secara administratif Dataran Tinggi Gayo meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues. Tiga kota utamanya yaitu Takengon, Simpang Tiga Redelong dan Blang Kejeren.
Aceh yang terletak di ujung utara pulau Sumatera dan memiliki beragam jenis keunikan, mulai dari budaya, adat istiadat, kuliner khas, bentangan alam yang indah hingga hal unik lainnya. Tak hanya itu, Aceh dikenal juga sebagai salah satu sentral produksi kopi arabika terbesar tak hanya di Indonesia, namun juga di Asia dengan kualitas kopinya yang baik di level dunia. Kopinya yang lebih dikenal dengan sebutan Kopi “Gayo” karena karakteristik aroma dan rasa kopinya yang khas.

Lintong – Jejak Toba

Tentang rasa yang tenang
dan waktu yang berjalan pelan

Origin: Lintong Nihuta, Sumatra Utara
100% arabica coffee
Variety: Line S
Elevation: 1200-1400m ASL
Process: Full Washed
Tasting notes: seperti duduk diam di sore hari—hangat, manis pelan, tidak banyak bicara
Nutty and smooth with brown sugar sweetness, light floral hints, a syrupy body, and a clean, gently sweet finish
Fragrance/Aroma: Soft floral notes layered with roasted nuts and brown sugar sweetness.
Flavor: Nutty and mellow with hints of brown sugar and light florals, presenting a smooth and approachable profile.
Acidity: Low to medium, gentle and rounded, contributing to an easy-drinking character.
Body: Medium to full, syrupy and smooth with a pleasant weight on the palate.
Aftertaste: Clean, slightly sweet with lingering notes of nuts and caramelized sugar.
Balance: Well-balanced cup with harmonious integration between sweetness, body, and mild acidity.
Overall Impression: A comforting and approachable coffee with a smooth, syrupy mouthfeel and subtle sweetness, ideal for those who enjoy a mellow and balanced profile.

Mood: Fresh • Calm • Lingering
Cocok untuk: slow evening / cappuccino

Ia tidak datang untuk mengejutkanmu.
Ia hadir seperti seseorang yang sudah kamu kenal lama—
duduk di sampingmu, tanpa banyak kata.

Ada hangat yang pelan,
seperti sore yang tidak ingin segera selesai.
Tidak terburu-buru, tidak memaksa,
hanya menemani.

Di dalamnya, ada rasa cukup—
cukup untuk membuatmu berhenti sejenak,
cukup untuk membuatmu tidak mencari apa-apa lagi.

Ia tidak meninggalkan kesan yang riuh,
tapi justru tinggal lebih lama—
seperti tenang yang akhirnya kamu temukan
setelah hari yang panjang.

Dan saat semuanya habis,
yang tersisa bukan hanya ingatan tentang rasa,
melainkan perasaan:
bahwa diam pun bisa terasa hangat

Bibit kopi Lintong dibawa oleh kolonial Belanda pertama kali sekitar tahun 1888. Lokasi penanaman kopi waktu itu terkonsentrasi pada daerah-daerah di sekitar pegunungan Bukit Barisan, dekat Danau Toba yang memiliki ketinggian ideal untuk tumbuhnya pohon kopi.
Daerah penanaman kopi umumnya berada di sekitar Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Karenanya istilah kopi Lintong pun diambil dari kata Lintong Nihuta.
Sejak dulu, kopi Lintong termasuk favorit para peminum kopi di Eropa karena rasanya yang kuat dan aromanya yang cukup khas.
Wilayah tumbuh: daerah sekitaran kabupaten Humbang Hasundutan, yaitu kecamatan Lintong Nihuta (1,400-1,450 mdpl), kecamatan Dolok Sanggul (1,450-1,600 mdpl) dan sekitar Danau Toba.

Untuk memudahkan mengingat jenis kopi yang Anda sukai ini, TGC mem-visual kan kopi ini sebagai seorang pemuda Viking dari Scandinavia bernama Svein.

Di TGC, kami percaya bahwa kopi bukan sekadar rasa — tapi juga perasaan. Dengan begitu banyak kopi langka dari seluruh dunia, kami menciptakan “karakter” untuk membantu kamu mengingat cita rasa dan jiwa dari masing-masing kopi.

Sama seperti tokoh favoritmu dalam buku atau film, kamu akan terus kembali pada karakter yang paling menyentuh hatimu.
Jadi… udah ketemu kopi favoritmu?

Kopi TGC Svein terdaftar di BPOM
Shop online kopi Lintong klik Tokped di sini
Diproduksi oleh PT Coffee TGC Indonesia
Kopi TGC adalah coffee roastery yang telah berdiri sejak 2014

Untuk kopi-kopi Sumatra yang lain bisa cek di sini: Mandailing | Kerinci | Kopi Batak | Semendo | TanaKaro


STOK HABIS

Ini bukan kopi yang mencari perhatian.
Ia adalah kopi yang
menemani.

Origin: Lintong, Sumatra
100% arabica coffee
Elevation: 1450m ASL
Process: Washed
Tasting notes: seperti sore yang tidak perlu direncanakan, seperti percakapan yang tidak dipaksakan.
Herbs hint, medium acidity, medium body, balance, smooth finish
Fragrance (dry): Herbal, dried leaves, light earthy tones, with subtle spice.
Aroma (wet): Cleaner and more defined; fresh herbal notes, light florals, and a hint of sugarcane sweetness.
Flavor: Dominant herbal / tea-like character, supported by light nuttiness and a touch of mild chocolate. Clean profile, gentle and composed.
Acidity: Medium — soft and controlled, leaning toward malic (green apple–like) acidity. Not sharp, well-integrated.
Body: Medium — rounded and smooth, comfortable mouthfeel without heaviness.
Balance: Well-balanced — no single element overpowering, everything integrates harmoniously.
Sweetness: Light natural sweetness, resembling brown sugar / sugarcane.
Aftertaste: Clean and smooth — lingering light herbal notes, quickly clearing, leaving a gentle impression.
Overall Impression: A calm, clean, and balanced cup. Not overly complex, but steady and refined— easy to enjoy, with a quiet depth.

Di dalam cangkir,
ada jejak herbal yang halus,
keasaman yang cukup,
dan tubuh yang seimbang—
ditutup dengan rasa yang smooth,
tidak berisik, tapi tinggal lebih lama.

MALABAR

Origin: Puntang, West Java
100% arabica coffee
Elevation: 1200-1500m ASL
Variety: typica, lini s, katimor
Process: Washed dry hulled
Notes: Chocolate, Mandarin Orange, Guava, Low to Medium acidity, Medium body. Aroma : Brown Sugar, Caramel.

Gunung Malabar dengan puncak nya disebut Puncak Besar (2.343mdpl) merupakan salah satu puncak yang dimiliki Pegunungan Malabar di Jawa Barat, Indonesia. Beberapa puncak yang lain adalah Gunung Puntang – Puncak Mega (2.222mdpl), dan Puncak Haruman (2.141mdpl). Terletak di Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Malabar
Origin: Pengalengan, West Java
100% arabica coffee
Elevation: 1400m ASL
Tasting notes: medium body, green apple acidity, brown sugar, caramel, chocolate finish
Process: Washed

Untuk memudahkan mengingat jenis kopi yang Anda sukai ini, TGC mem-visual kan kopi ini sebagai GIA. Diambil dari nama Italia, yang berarti god is gracious; terinspirasi dari dewi Yunani yang bernama Gia.

Di TGC, kami percaya bahwa kopi bukan sekadar rasa — tapi juga perasaan. Dengan begitu banyak kopi langka dari seluruh dunia, kami menciptakan “karakter” untuk membantu kamu mengingat cita rasa dan jiwa dari masing-masing kopi.

Sama seperti tokoh favoritmu dalam buku atau film, kamu akan terus kembali pada karakter yang paling menyentuh hatimu.
Jadi… udah ketemu kopi favoritmu?

Kopi TGC Gia terdaftar di BPOM
Shop online kopi Gia klik di sini
Diproduksi oleh PT Kopi TGC Indonesia
Kopi TGC adalah coffee roastery yang telah berdiri sejak 2014

_________________________________

SOLD OUT:
Origin: Puntang, West Java
100% arabica coffee
Elevation: 1200-1680m ASL
Variety: typica, lini s, ateng super
Process: Red honey

Kozui CM

Origin: West Java
100% arabica coffee
Tasting notes: Complex, dried fruits, cherry, orange, exotic fruit (markisa), banana hint, chocolate finish
Process: Carbonic Maceration Natural

Fermentasi pada Kopi

Fermentasi pada produksi makanan dan minuman memiliki sejarahnya tersendiri. Merupakan hasil dari rangkaian penciptaan rasa-rasa baru sejak pertama kali orang yang berani mencoba beberapa anggur yang dibiarkan sedikit lebih lama di luar.

Dasar Fermentasi

Definisi fermentasi berubah menurut siapa yang Anda ajak bicara. Para ahli mirobiologi dan biokimia memiliki definisi sangat ketat akan arti kata ini. Secara spesifik, intrepretasi para ilmuwan adalah proses metabolisme yang melibatkan pelepasan energi molekul organik tanpa adanya oksigen.

Dalam produksi makanan dan minuman, definisi fermentasi sedikit longgar. Pada umumnya, industri profesional akan menggunakannya untuk memaknai perubahan pada produk makanan dengan hadirnya organisme mikrobiologi, seperti bakteri atau ragi, yang sering menghasilkan ethanol (alkohol), karbondioksida, dan atau lactic dan acetic acid.

Fermentasi pada Kopi

Tanpa membahas lebih dalam lagi mengenai biokimia, secara esensial seluruh kopi pada dasarnya melalui beberapa tingkat fermentasi.

Biji kopi Full Washed hampir seluruhnya selalu melalui tahap fermentasi intens setelah proses pulping; biasanya semalaman, kadang-kadang di dalam air – sebelum di cuci, proses pemilahan, dan pengeringan. Proses setelah perendaman biasanya menurunkan populasi mikroba, namun fermentasi terus berlangsung pada tahap ini juga.

Biji kopi Natural dry-process dan honey/natural juga sedikitnya terfermentasi, disaat daging buah kopi di sekelilig biji kopi mengering. Mikroba secara aktif mencerna gula dan mengubah rasa seiring mengeringnya kopi.

Memanfaatkan kekuatan fermentasi adalah bagian penting dari pekerjaan petani, dan inovasi-inovasi muncul dengan cepat seiring dengan peningkatan kualitas kopi dan membangun standard proses yang lebih baik, seperti yang dilakukan pada industri anggur dan bir.  

Penjual anggur akan merasa ngeri pada fermentasi kopi. Tidak ada pembuat anggur di dunia yang tidak tahu koloni mikroba ragi yang digunakan pada anggurnya, tapi para petani kopi membiarkan bakteri lokal native dan ragi lepas pada produk mereka. Dalam kasus ini, fermentasi kopi lebih mirip dengan yang terjadi pada coklat.

Beberapa dugaan mikroba native adalah hakiki dalam keunikan citarasa asli dari banyak kopi, namun sains belum menawarkan jawaban pasti pada asumsi ini. Pada produk fermentasi lain, natur dari bahan-bahannya berdasar pada tanah dan karakter tanahan, belum lagi banyak faktor lain, memainkan peranan penting dalam terciptanya rasa.

Fermentasi Anaerobic dan Carbonic Maceration

Salah satu proses yang muncul dan populer karena rasa yang dihasilkannya unik dan luar biasa, melibatkan fermentasi anaerobic, dan disebut carbonic maceration.

Mari kita lihat arti kata-nya satu per satu, sehingga kita tidak terpaku pada detailnya.

  • Anaerobic – lingkungan hidup tanpa oksigen
  • Carbonic – lingkungan hidup kaya karbondioksida
  • Maceration – istilah yang paling mendekati dibandingkan fermentasi, mengacu kepada metabolisme mikrobiologi

Ada pengertian dimana anaerobic dan carbonic dapat digunakan secara bergantian – keduanya mengacu kepada keterbatasan oksigen. Mungkin Anda juga telah memperhatikan bahwa definisi ilmiah dari fermentasi – kata “tanpa oksigen” termasuk didalamnya, jadi ada juga pengertian dimana istilah “fermentasi anaerobic” itu sama saja.

Jadi, walaupun oksigen ada pada lingkungan sekitar microba fermentasi, tidaklah digunakan pada proses fermentasi tersebut. Tidak dapat juga dikatakan bahwa aerobic maceration tidak terjadi; pasti, karena ada banyak mikroba yang menyukai oksigen dan akan selalu mencerna buah kopi.

Oleh karena itu istilah ini berarti besar dalam konteks kopi. Karena keterbatasan cara dalam kita mendiskusikan mengenai fermentasi kopi selama ini, kita perlu lebih spesifik ketika ada perubahan terjadi pada proses yang umum.

Pada seluruh sejarah produksi kopi Full Wash, jangka waktu ketika kopi yang telah di pipil itu ter-maceration (biasanya pada bak penampungan berisi air) di sebut fermentasi. Fungsi asalnya, bukan bentuknya. Itu adalah metode petani pada waktu menghilangkan mucilage buah kopi dari biji kopi yang masih ada kulit arinya. Perubahan rasa, walaupun penting, adalah kedua untuk menghilangkan gula buah dan pektin.

Sekarang kita telah memperhatikan pada kompleksnya mikrobiologi dan efeknya pada rasa, arti kata yang lebih tepat itu dibutuhkan untuk membedakan ketika petani melakukan fermentasi secara tradisional, atau menggunakan metode secara lebih spesifik.

Karenanya timbulah fermentasi “anaerobic” pada kopi. Ketika petani menggunakan kata ini, biasanya mereka bermaksud meerka telah menciptakan lingkungan hidup yang tertutup. Secara khas, kopi telah di pipil seperti biasa dan kulit ari dengan mucilage-nya dimasukkan dalam tangki kedap udara, biasanya menggunakan stainless steel, dengan katup untuk melepas gas. Cara fermentasi ini dapat memperpanjang waktu beberapa jam dari yang biasanya secara tradisional 12-36 jam atau bahkan menjadi beberapa hari pada beberapa kasus. Jenis-jenis mikroba yang dapat bertahan bahkan aktif berpartisipasi dalam fermentasi sangat oleh kurangnya oksigen, dan sepertinya akan mengubah secara substansial akan profile rasa pada akhirnya. Rasa kopi anaerobic dapat diidentifikasi dengan mudah dan langsung; misalnya jahe, kayumanis, akarmanis, permenkaret, buah pir rebus. Citarasa nya cenderung singular, sangat tajam dan tidak umum.

Hal utama yang membedakan kopi fermentasi anaerobic dan carbonic maceration yaitu pada carbonic maceration ceri kopinya tetap dibiarkan melekat, tidak di pipil sebelum masuk ke dalam tangki yang di tutup rapat. Carbonic maceration adalah istilah yang diambil dari industri anggur, dimana seluruh buah anggur di fermentasi tanpa melalui proses tekanan mengeluarkan air anggurnya terlebih dahulu. Hal ini cenderung menghasilkan anggur yang lebih fresh dan fruity yang mungkin tidak akan menua dengan baik namun dapat dikonsumsi lebih cepat setelah diproduksi.

Pada metode carbonic dalah fermentasi kopi, pertama, ceri kopi yang tenggelam dan terpisah dari yang terapung, dimasukkan ke dalam tangki kedap udara dengan katup searah, sedikitbanyak sama dengan metode pada anaerobic. Karena kulit ceri dibiarkan saja, fermentasi membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Berbagai variasi level tekanan dalam tangki menciptakan kadar gula dan pektin yang berbeda untuk di macerate oleh mikroba. Mendekati dasar tangki, kopi tertekan dari waktu ke waktu oleh gravitasi, dimana ceri pada bagian permukaan tunpukan tetap tidak mengalami tekanan dan fermentasi akan lebih lambat dan di terjadi dalam dari kulit buahnya.

Neel Vohora, seorang penghasil kopi senior pada pertanian keluarga di lereng kawah Ngorongoro di utara Tanzania, telah bereksperimen dengan menambahkan air pada metode kopi carbonic nya. Setelah 5-7hari di dalam tangki berisi air carbonic, air menjadi jenuh dengan enzim fermentasi dan produk sampingan lainnya, dan buih mulai keluar dari katup. Ini menandakan untuk mengakhiri fermentasi sebelum buah di pipil, dan dijemur. Rasa kopi sangat unik, antara berri matang dan rasa anggur menghasilkan kurma kering, mentega matang, dan sirup maple dengan sedikit rasa bunga.

Perhatian

Fermentasi pada tangki tertutup pada kopi adalah hanya satu dari sekian inovasi yang menarik yang telah muncul pada pertanian. Tipe progresif dan eksperimental ini dapat meningkatkan kreatifitas dalam industri yang sering mengacu kepada tradisi, dan memberikan diferensiasi market pada penghasil kopi yang mencari kebebasan dari harga dagang kopi.

Namun, perhatian pada pembeli. Walaupun sepertinya menarik untuk mendorong penghasil kopi untuk bereksperimen pada metode pemrosesan kopi; tenaga, sumber daya, dan potensial rugi, membuat hal ini menjadi langkah yang beresiko. Olehkarena alasan itu, keyakinan kami permintaan untuk bereksperimen harus dibarengi dengan komitmen finansial yang kuat dari pembeli, mengesampingkan kualitas sebagai hasilnya, untuk membeli hasil pada harga yang adil yang memperhitungkan harga pasar dari petani seiring dengan waktu, lahan, dan tenaga tambahan.

Dengan komitmen ini dapat memberikan dorongan pada perubahan ke arah positif pada sektor kopi baik itu untuk petani maupun roaster. <diterjemahkan oleh coffee TGC dari dailycoffeenews.com>

Lanjutkan baca ke halaman Inoculation Process berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai proses pada biji kopi.

Baca juga berbagai proses pada kopi yang lain di sini